Mengejar Waria

6 Feb

Saya ini perempuan, tapi kok ada di tubuh cowo – Bonita

Agak random nih, buka-buka external HD nemu file jaman SMA. Salah satu yang paling memorable adalah karya tulis ilmiah (KTI) untuk syarat ikut UAN. Waktu itu entah kenapa tertarik banget untuk ngebahas masalah waria, penasaran kenapa ada waria. Makanya judul KTI saya waktu itu adalah ‘Motivasi Seseorang Menjadi Waria.’

Nah, yang seru itu waktu nyari waria yang mau diajak wawancara. Mulai dari browsing cari-cari lembaga waria, cari-cari contact person nya juga. Waktu itu sempat nemu salah satu lembaga waria tapi sayang nggak berhasil dihubungi. Akhirnya mau nggak mau harus nyari langsung ke ‘tempat nongkrong’nya waria. 

Untungnya waktu itu ayah bersedia nemenin ke taman lawang. Denger-denger cerita dari teman dan orang lain, waria itu kurang suka kalau ngeliat cewe. Saya prepare dong, pake jaket hoodie biar bisa nyembunyiin muka dan identitas saya sebagai cewe ceritanya. Sekitar jam 1 pagi dimulailah acara ‘mengejar waria,’ rada deg-degan karena ini pertama kalinya.

Sudah sampai daerah taman lawang, mulai kelihatan beberapa kumpulan waria. Kumpulan waria yang pertama waktu itu ada tiga orang. Ayah buka jendela mobil ‘sreeet’, dengan suara rada menggoda dan lirikannya ke waria “sini dooong. mau berapa?” dan begitulah tawar menawar terjadi. Pas salah satu waria udah setengah jalan ke mobil, pas ngeliat saya langsung batal, dia marah. Ah sayang sekali. Jalan nyari yang lain deh.. (usaha penyamaran gagal)

Setelah sekitar setengah jam muter-muter masih belum nemu juga waria yang bisa diajak wawancara. Daan, ini nih yang saya inget banget. Saya dan ayah melewati sekumpulan waria lagi, disana juga ada beberapa mobil yang saya duga pelanggannya. Waktu lewat di depan mereka tiba-tiba satu waria membuka bajunya se-dada, pas banget di depan jendela cuma jarak satu meter. Otomatis, maaf, boops(tete)nya keliatan. I tell ya, they’re szuper sexy. Inget kata-kata ayah habis dari taman lawang “gila, cantik-cantik seksi-seksi ya mbak.. nggak nyangka. cewe asli aja kalah” :lol:

Akhirnya, karena perburuan saya gagal malam itu, guru pembimbing saya yang bernama pak Edi bersedia membantu. Saya pergi bersama Pak Edi dan satu teman bernama Aldy (meneliti tentang gay) ke daerah Cempaka Mas. Ternyata cukup banyak waria yang ngamen di daerah sana. Kami dapat dua waria yang mau diwawancara, bernama Bonita dan Cristin.

Singkat cerita, alhamdulillah mereka kooperatif selama diwawancara. Mereka mengaku bahwa mereka merupakan jiwa perempuan yang terjebak di tubuh laki-laki. Fakta yang cukup mencengangkan saya:

1. Mereka tidak ingin merubah kelaminnya. Yang mereka lakukan selama ini hanya sebatas meminum pil KB untuk memperbesar payudara untuk terlihat seperti a real woman.

2. Bonita mempunyai istri dan seorang anak. Alasannya adalah untuk pertanggung jawaban di akhirat. Mereka ingin ketika meninggal diperlakukan tetap seperti laki-laki. Cristin pun berharap akan menikah suatu saat nanti dengan seorang perempuan.

Saya juga ada anak. Tapi, ya istilahnya meskipun saya punya anak, istri saya kaya temen saya sendiri, bukan kayak istri saya. – Bonita

Nggak selamanya dong saya jadi waria aja. Takutnya ntar kalo mati atau apa, kan salah juga. Kan pengennya jadi laki-laki, cara mandinya, cara kuburnya. – Cristin

Selain itu dari hasil wawancara didapatkan adanya influence dari keluarga, contoh, Bonita sewaktu kecil dipakaikan baju-baju perempuan oleh kakak-kakaknya. Meskipun Cristin tidak ada anggota keluarga yang mengarahkannya menjadi ‘kewanitaan’ tetapi dia mengaku akan tidak adanya larangan atau pembatasan sejak dini dari keluarga utamanya sendiri.

Sebetulnya saya ingin menampilkan seluruh hasil wawancara tapi terlalu panjang. Saya sendiri bingung antara pro dan kontra dengan kejadian waria ini, walaupun cenderung ke kontra. Saya jelas kontra, karena memang tidak dibenarkan hal ini oleh agama (bahkan Bonita dan Cristin pun menyadari). Tapi juga kasian, karena mereka sudah ter- mind set bahwa mereka perempuan. Yang kasian lagi mereka sulit mencari pekerjaan dengan status sebagai waria. Oleh karena itu tidak sedikit yang berujung mencari nafkah di jalan prostitusi.

Tag:, ,

3 Tanggapan to “Mengejar Waria”

  1. erika sukoputri FebpmSun, 06 Feb 2011 23:00:49 +0000UTC28 8, 2007 pada 10:10 p02 #

    What an unique experience!
    Sure, we must appreciate their existence, tapi tetap saya berdoa semoga keluarga, teman2 tidak ada yang begitu.
    Good writing beng :)

  2. azzum FebamMon, 07 Feb 2011 10:23:25 +0000UTC28 8, 2007 pada 10:10 p02 #

    *ngakak…:D
    parah bgt dah ayahmu looks like profesional..hahahaha
    tapi apapun itu,,masalah2 spt itu byk bgt..dan kt sbg org yg d anggap lebih normal tidak boleh memusuhi mereka, kl bisa membantu mereka keluar dari masalah itu..marah at benci tak akan menyelesaikan masalah..:)

  3. abelmanu FebpmMon, 07 Feb 2011 23:35:03 +0000UTC28 8, 2007 pada 10:10 p02 #

    @erika : setuju mb rik.. ihii thankyou :)

    @azzam : setuju jg sama azzamz.. daripada asal gebuk kaya F*I ya *oops, lebih baik bahu membahu hehe

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.