Desa Clarak, Probolinggo, dari tanggal 29 Juli hingga 1 Juli menjadi tempat persinggahan saya dan sebagian besar teman-teman dari FK Unair 2008 untuk melaksanakan bakti sosial yang diadakan setiap tahun. Di acara baksos ini banyak sekali kegiatan yang dilakukan, seperti pengobatan gratis, penyuluhan, khitanan masal, jalan sehat, dan lainnya. Untuk lebih khususnya baksos kali ini ingin mengajak masyarakat disana untuk lebih peduli akan masalah sanitasi.
Sebelum saya berangkat ke Probolinggo, saya memiliki bayangan sendiri di kepala saya mengenai keadaan disana. Tapi ternyata ada beberapa hal yang jauh lebih buruk pada kenyataannya.
Di Desa Clarak, saya ditempatkan di Dusun Krajan 2 dan beruntung sekali mendapat kesempatan menginap di rumah Pak Sumar. Pak Sumar ini merupakan seorang pendiri panti asuhan di dusun tersebut. Sudah banyak anak yang beliau tolong, termasuk anak autis dan beberapa anak yang cacat. Saya dan 20 teman saya lainnya tinggal di rumah beliau yang biasa digunakan untuk tempat tidur beberapa anak panti. Masih sangat beruntung saya mendapat tempat tinggal yang toiletnya memiliki jamban. Ketika saya keliling dusun untuk melakukan survey dan penyuluhan mengenai pentingnya jamban, saya mendapatkan hanya segelintir orang yang memiliki jamban dirumahnya. Sisanya membuang hajat ke sungai. Luar biasa.
Mengumpulkan cerita dari beberapa teman saya, beberapa alasan mengapa mereka tidak memiliki jamban antara lain ‘tidak adanya cukup uang untuk membuat jamban,’ ‘tidak adanya cukup ruang untuk dibuat jamban di rumahnya,’ atau pernyataan menggelitik seperti ‘untuk apa membuat jamban kalau ujung-ujungnya tetap terbuang ke sungai? lebih baik ke sungai langsung.’ Untuk pernyataan terakhir ini saya sendiri kurang bisa menjawab. Apakah mungkin karena tidak tersedianya fasilitas septic tank?
Kebetulan saya kalau pergi-pulang dari-ke rumah Pak Sumar melewati sungai. Berbagai aktivitas dilakukan disana. Mulai dari tempat berenang anak-anak sekitar, tempat mencuci pakaian, tempat pembuangan sampah, dan bayangkan, kotoran manusia pun dibuang kesana. Ironisnya, diare yang merupakan salah satu akibat dari pembuangan hajat yang sembarangan, dianggap merupakan hal yang biasa bagi warga sana. Seakan-akan diare bukanlah sebuah penyakit.
Beralih dari masalah jamban. Rata-rata masyarakat Dusun Krajan 2 berpendidikan terakhir di tingkat SD. Salah satu celotehan menarik ketika teman saya survey ke seorang ibu rumah tangga, “saya ingin meneruskan mbak sebenarnya, tapi tiba-tiba sapi dipinjem orang. Terus buku saya dijual,” ucap si ibu sambil tertawa malu.
Ada satu hal yang sulit saya lupa ketika saya men-survey seorang bapak yang hanya tinggal dengan cucunya. Saya pada waktu itu menanyakan jumlah pendapatannya per-bulan. Beliau ini seorang buruh tani. Untuk mendapat informasi mengenai pendapatan beliau ini cukup sulit, karena beliau sendiri tidak memiliki pendapatan yang pasti. Jawaban beliau, “susah mbak kalau ditanya pendapatan. yaa nggak pasti per hari dapet uang. Kalau sedang beruntung, bisa dapat per hari Rp. 10.000.” Jujur, sampai sekarang saya masih belum habis pikir bisa beli apa saja beliau dengan Rp. 10.000 per hari. Dan pada kenyataannya banyak penduduk disana berpenghasilan Rp. 10.000/hari.
Beberapa hal di atas sejujurnya cukup mengagetkan saya. Ternyata beginilah kehidupan masyarakat desa. Dan kalau mau bicara lebih jujur lagi, masih banyak daerah yang jauh lebih terpelosok dan jauh lebih tidak sehat gaya hidupnya dibanding di desa Clarak ini. Sedih tentunya. Tapi saya sangat senang dengan antusiasme yang ditunjukkan masyarakat sana dengan kegiatan yang kami adakan. Empat puluh lebih ibu-ibu datang untuk mendengarkan penyuluhan megenai ASI dan garam beryodium di Dusun Krajan 2. Juga tidak kalah banyaknya masyarakat yang datang ke pengobatan gratis.
Saya sangat berharap dengan adanya baksos ini bisa mengena dan bermanfaat ke sebagian besar penduduk di desa Clarak, meskipun juga kami telah merepotkan khususnya bagi yang menjadi host parent kami. Sebuah pesan yang juga sangat berarti terucap oleh Pak Sumar saat perpisahan pulang, “nanti kalau sudah pada menjadi dokter yang sukses jangan lupa dengan rakyat kecil. Masih banyak yang butuh pertolongan di daerah-daerah pelosok. Jadilah dokter yang membagi rejeki dengan orang lain, tidak hanya mengambil keuntungan sendiri.”
Ya Allah, semoga saya bisa menjadi dokter yang diharapkan Pak Sumar.
Tag:baksos, clarak, fk unair, krajan, probolinggo, rakyat kecil
Mengundang untuk bergabung dalam komunitas G-Smart (Komunitas Keluarga Miskin di Indonesia).
Terima kasih
Iya, benar sekali Bel..
Ternyata memang keadaan rakyat kecil di Indonesia masih ironi sekali..
Apalagi yg mengenai penggunaan jamban..
Semoga masyarakat probolinggo nnti bisa lebih maju dri sebelumnya…